You must enable JavaScript to view this site.
This site uses cookies. By continuing to browse the site you are agreeing to our use of cookies. Review our legal notice and privacy policy for more details.
Close
Homepage > Regions / Countries > Asia > South East Asia > Indonesia > Indonesian Jihadism: Small Groups, Big Plans

Jihadisme Indonesia: Kelompok Kecil, Rencana Besar

Asia Report N°204 19 Apr 2011

The full report is available in English.

RINGKASAN IKHTISAR DAN REKOMENDASI

Ekstrimisme yang melibatkan kekerasan berangsur-angsur berubah bentuk jadi kelompok-kelompok kecil yang bertindak sendirian terlepas dari organisasi jihad besar – tapi kadang-kadang dengan dukungan mereka. Perubahan ini sebagian akibat efektifnya penegakan hukum yang telah menghasilkan penangkapan secara meluas dan melemahkan struktur Jemaah Islamiyah (JI), Jama’ah Anshorut Tahuid (JAT) dan organisasi-organisasi lain yang dituduh terkait terorisme. Tapi perubahan ini juga merupakan dampak dari pergeseran ideologi yang sekarang lebih condong ke aksi jihad yang bersifat “individual” dibandingkan “organisasional”, berbiaya rendah dan sasaran pembunuhannya berskala kecil daripada sebelumnya yang berupa serangan yang menewaskan korban masal dan secara tidak sengaja memakan korban muslim juga. Bom bunuh diri yang terjadi di sebuah masjid di dalam kompleks Mapolresta Cirebon tanggal 15 April 2011 dan serangkaian bom surat yang dikirim dan beredar di Jakarta pada pertengahan bulan Maret menjadi penanda pergeseran ideologi ini. Pemerintah perlu segera menyusun strategi-strategi pencegahan untuk mengurangi kemungkinan kelompok-kelompok semacam ini semakin banyak muncul.

Tak seperti para pendukung kelompok-kelompok jihad kecil, orang-orang yang menyokong jihad “organisasional” percaya bahwa mereka tidak akan bisa mencapai cita-cita mereka mendirikan negara Islam tanpa organisasi besar serta pemimpin yang kuat. Mereka juga percaya untuk meraih cita-cita mereka, maka penting sekali untuk membangun dukungan publik. Daripada terlibat dalam aksi terorisme, kelompok-kelompok seperti JI dan JAT saat ini fokus pada upaya membangun sebuah basis massa, dengan mencari isu-isu yang dekat dengan target dakwah mereka. Semakin lama hal ini membuat mereka fokus pada “musuh-musuh” lokal daripada asing, dengan sasaran para pejabat yang dilihat sebagai penindas, terutama polisi; kaum Nasrani; dan anggota aliran Ahmadiyah, menempati urutan teratas. Hal ini juga berarti mereka lebih bersedia untuk membentuk koalisi-koalisi dengan kelompok-kelompok non-jihadi dibanding di masa lalu. 

Dalam beberapa hal, kedua arus jihadisme ini bisa saling melengkapi. Organisasi yang lebih besar bisa membiayai dakwah-dakwah yang menarik orang-orang yang potensial untuk jadi anggota kelompok-kelompok kecil ini. Mereka juga bisa menyediakan penterjemah dan distributor untuk materi-materi yang di-download dari situs-situs ekstrimis berbahasa Arab atau Inggris yang menunjang pendekatan kelompok-kelompok kecil. Mereka bisa mempertahankan sanggahan yang masuk akal atas aksi-aksi kekerasan sambil berusaha terus membangun kembali posisi mereka, dan pada saat yang sama menyediakan semacam cover yang dari bawahnya kelompok-kelompok kecil muncul. Organisasi-organisasi yang lebih besar belum meninggalkan jihad, hanya menundanya.

Laporan ini melakukan studi kasus mengenai kelompok-kelompok kecil yang menggunakan kekerasan yang muncul di Indonesia tahun 2009 dan 2010 di wilayah Sumatera yaitu Medan dan Lampung serta di Jawa yaitu di Bandung dan Klaten. Semuanya melibatkan sedikitnya seorang mantan napi; tiga dari empat kelompok punya hubungan dengan JAT tapi beroperasi sendiri terlepas dari kontrol JAT. Tiga dari empat kelompok ini juga terkait dengan kelompok-kelompok pengajian yang lambat laun berubah menjadi pasukan tempur, dan semuanya berkomitmen pada ightiyalat, operasi pembunuhan mendadak. Tak satupun dari anggota kelompok yang dikaji ini menjadi radikal karena faktor kemiskinan.

Informasi mengenai kelompok-kelompok kecil ini baru didapat karena anggota mereka tertangkap. Hal ini menimbulkan pertanyaan seberapa banyak kelompok kecil lainnya yang belum diketahui, biasanya kelompok ini baru diketahui ketika salah satu operasi pembunuhan mereka berhasil. 

Strategi-strategi pencegahan yang tidak hanya bersifat penegakan hukum sangat diperlukan, dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang baru dibentuk memiliki peran penting dalam mendesain dan mengujinya. Namun, semua stragegi ini harus berdasarkan penelitian lapangan yang dan dituntun oleh studi yang sungguh-sungguh mengenai apa yang sudah dan belum berjalan dengan baik di tempat lain.

REKOMENDASI-REKOMENDASI

Kepada Badan Nasional Penanggulangan Terorisme

1.  Segera mulai merancang program-program pencegahan:

a) Menugaskan sebuah tim penelitian kecil untuk menelusuri berkas perkara dari seluruh ekstrimis yang telah ditangkap hingga saat ini, menyusun sebuah database berisi daftar masjid, sekolah, dan institusi lain yang berulang kali mengadakan ceramah-ceramah, pertemuan-pertemuan dan pengajian-pengajian yang melibatkan individu-individu yang kemudian ditangkap atas kasus terorisme. Dari database ini, kemudian mengidentifikasi lima atau enam komunitas yang akan dilakukan pilot project upaya pencegahan.

b) Mengadakan serangkaian sesi-sesi kecil brainstorming, bukan dengan pemuka agama atau politisi, tapi dengan para scholar yang mempelajari gerakan radikal dan mereka yang bisa menelurkan ide-ide mengenai program-program yang mungkin dapat dilakukan. Serangkaian diskusi focus group di daerah-daerah sasaran untuk menilai kesadaran mengenai persoalan ini dan bagaimana menanganinya juga akan bermanfaat, begitu juga dengan bicara dengan pakar commercial marketing yang telah melakukan riset pasar di komunitas-komunitas ini untuk mengetahui himbauan-himbauan semacam apa yang paling efektif.

c) Menyusun sebuah ringkasan yang mengkompilasikan program-program pencegahan yang telah dicoba di negara-negara lain. Mereka yang ikut dalam sesi brainstorming harus membaca kompilasi ini dan membahas apa yang mungkin bisa diadaptasi dalam situasi macam di Indonesia dan bagaimana caranya.

d) Mengumpulkan contoh-contoh komunitas di Indonesia yang telah menolak khotbah-khotbah ekstrimis, untuk memahami bagaimana protes tersebut berkembang dan bagaimana keputusan dibuat, dengan maksud mendorong sikap yang sama di daerah lain.

2.  Membuat video tentang para remaja (identitasnya disamarkan) yang menyesali perbuatannya, yang telah ditangkap atas kasus terorisme dan bisa bicara di depan kamera mengenai aib yang mereka timbulkan bagi keluarga mereka dan juga bagaimana mereka bisa berbuat kesalahan. Wawancara dengan anggota keluarga, identitasnya juga disamarkan, mengenai masalah yang harus mereka hadapi dengan penangkapan anak mereka juga akan bermanfaat. Video-video ini harus diuji terlebih dahulu kepada penonton remaja sebelum ditayangkan lebih luas di daerah-daerah sasaran.

3.  Mengadakan diskusi-diskusi kecil dan tertutup dengan kepala sekolah SMP-SMP dan SMA-SMA di daerah sasaran untuk:

a) Memahami panduan apa saja yang diberikan ke guru-guru yang mengawasi program-program ekstra kurikuler agama dan bagaimana panduan itu bisa diperbaiki untuk memastikan bahwa program-program ini tidak mendorong ekstrimisme atau mendukung kekerasan;

b) Memahami bagaimana para guru pengawas ini dipilih dan bagaimana agar bisa memasukkan upaya-upaya pencegahan terhadap ekstrimisme ke dalam proses seleksi;

c) Memastikan bagi para kepala sekolah yang khawatir terhadap kegiatan keagamaan di sekolah yang bisa mendorong aksi kekerasan memiliki berbagai pilihan yang bisa diambil, termasuk mengganti guru pengawas atau menghentikan kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung ekstrimisme kekerasan tersebut;

d) Memastikan bahwa ada catatan yang mendetil mengenai pihak-pihak luar untuk kegiatan ekstrakurikuler yang menggunakan fasilitas sekolah.

4.  Mencari jalan untuk mengaudit dana yang dikumpulkan oleh organisasi-organisasi jihadi untuk berbagai tujuan – bantuan bencana alam, sedekah untuk fakir miskin, bantuan bagi keluarga mujahid yang dipenjara – dan mengekspos apabila ada penyimpangan-penyimpangan atau penyalahgunaan.

5.  Memastikan kesadaran yang lebih besar mengenai trend dalam jihadisme dan perubahan yang diakibatkan dalam taktik dan sasaran mereka dengan cara:

a) Mempekerjakan ahli bahasa Arab yang memiliki minat dalam pembangunan ideologi;

b) Membangun kontak dengan mitrakerja di Timur Tengah untuk memahami trend-trend baru dalam jihadisme yang mungkin akan masuk ke Indonesia lewat terjemahan-terjemahan;

c) Mengidentifikasi risalah-risalah revisionis jihadi yang mungkin bermanfaat untuk disebarkan ke komunitas jihadi Indonesia.

6.  Berbagi hasil penelitian dalam Rekomendasi 1 diatas, dengan organisasi-organisasi sosial besar seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dan menyediakan dana bagi proposal-proposal yang dirancang dengan baik yang bisa dilaksanakan oleh kelompok-kelompok pemuda dan pelajar/mahasiswa bersama dengan anggota mereka, yang bertujuan mencegah advokasi kekerasan di daerah-daerah yang memiliki sejarah kegiatan ekstrimis.

Kepada Menteri Hukum dan HAM:

7.  Mempertimbangkan untuk merancang sebuah peraturan baru mengenai pembebasan bersyarat yang akan melarang siapapun yang dihukum karena kejahatan terorisme untuk berbicara, mengadakan atau menjadi narasumber pengajian-pengajian atau taklim, setidaknya selama masa percobaan mereka.

8.  Memperkuat program-program yang saat ini sedang berjalan untuk memperbaiki training bagi petugas penjara; memantau dan mengawasi tahanan beresiko tinggi; dan program-program paska bebas.

9.  Memberi prioritas tinggi kepada program-program yang berupaya untuk mengurangi tingkat korupsi dalam penjara yang begitu tinggi, termasuk lewat inspeksi yang lebih baik; training yang lebih baik, audit yang lebih baik, dan pengangkatan para sipir yang berdasarkan kecakapan, bukan uang.

Jakarta/Brussels, 19 April 2011

 

More Information