You must enable JavaScript to view this site.
This site uses cookies. By continuing to browse the site you are agreeing to our use of cookies. Review our legal notice and privacy policy for more details.
Close
Homepage > Regions / Countries > Asia > South East Asia > Indonesia > Indonesia: The Dark Side of Jama’ah Ansharut Tauhid (JAT)

Indonesia: Sisi Gelap Dari Jama’ah Ansharut Tauhid (JAT)

Asia Briefing N°107 6 Jul 2010

RINGKASAN IKHTISAR

Jama’ah Ansharut Tauhid (JAT), organisasi yang didirikan oleh Abu Bakar Bas’asyir pada September 2008 sejak awal mulanya merupakan organisasi yang membingungkan. JAT yang seolah-olah merupakan organisasi terbuka juga mempunyai anggota yang diketahui memiliki kaitan dengan sejumlah DPO teroris. Organisasi ini telah menerima banyak anggota Jemaah Islamiah (JI), tapi JAT tidak sefaham dengan kepemimpinan JI mengenai strategi dan taktik. Mereka berkhotbah perlunya berjihad melawan musuh-musuh Islam, tapi bersikeras bahwa kegiatan JAT tidak melanggar hukum – meskipun pada prinsipnya mereka menolak seluruh hukum buatan manusia sebagai haram. JAT merupakan sebuah ormas tapi secara keseluruhan bergantung pada satu orang, yaitu Ba’asyir, yang tanpanya akan cepat bubar. JAT telah menjadi sebuah elemen penting dalam jaringan kelompok jihadi di Indonesia, tapi selama ini telah menjadi sasaran kritik tajam dari beberapa sekutunya. Bila sosok JAT beserta berbagai wajah yang dimilikinya bisa diketahui, dan keretakan ideologi yang telah diakibatkannya, mungkin kelemahan-kelemahan dan perselisihan yang terjadi di dalam gerakan jihadi di Indonesia saat ini bisa lebih dimengerti. Report ini juga menyoroti bagaimana pengaruh Ba’asyir yang masih kuat tapi kemungkinan mulai memudar.

Sisi gelap kegiatan JAT menjadi perhatian media pada tanggal 6 Mei 2010, setelah Densus 88 menggerebek markas Jama’ah Ansharut Tauhid (JAT) di Jakarta dan menuduh tiga petinggi JAT terkait pengumpulan dana untuk sebuah kamp latihan tempur yang terungkap di Aceh akhir bulan Februari. Pada tanggal 12 Mei, polisi menggelar rekonstruksi pertemuan di Jakarta Selatan yang melibatkan dua orang (yang sekarang ditahan), yang diketahui menjadi pelatih kamp training tersebut, dengan satu orang lain, yang memakai gantungan nama bertuliskan “Abu Bakar Ba’asyir”. Tuduhan tentang keterlibatan orang JAT dalam pencarian dana dan latihan tempur dengan segera memicu spekulasi bahwa Ba’asyir akan ditangkap lagi dalam waktu dekat.

Apabila Ba’asyir ditangkap, untuk yang ketiga kalinya sejak Bom Bali I, dampaknya akan terbatas, baik terhadap ekstrimisme maupun terhadap politik di Indonesia. Ba’asyir selama ini telah menjadi duri bagi pemerintah sejak awal tahun 1970an. Ia merupakan sesepuh gerakan radikal di Indonesia, tapi ia bukan penggerak utama maupun ideolog yang paling penting, dan banyak diantara sesama jihadis yang mengkritiknya, menyebut Ba’asyir kurang punya kemampuan strategi atau administratif.

Namun demikian, status selebriti Ba’asyir, program dakwah yang aktif, dan perekrutan anggota yg cepat, tanpa proses kaderisasi yang berarti, telah membuat JAT menjadi sebuah organisasi dengan struktur berskala nasional hanya dalam waktu dua tahun sejak pendiriannya. Rekrutmen dilaksanakan melalui tabligh akbar dan pengajian yang lebih kecil, terbuka untuk umum, dimana Ba’asyir dan ustadz-ustadz lain menghimbau pengikutnya untuk menerapkan syariat secara kuffah, menolak sistem demokrasi, dan berjihad terhadap musuh. Wajah publik ini rupanya menjadi semacam cover untuk lingkaran kecil didalam JAT yang mendukung kekerasan. JAT tidak bisa bertahan lama sebagai organisasi berwajah dua – banyak orang ditarik ke JAT karena kegiatan dakwah yang sifatnya militan tapi sah. Kalau ternyata betul-betul pemimpinnya terkait aksi teroris, banyak anggotanya pasti keluar.

Sebetulnya, proyek jihadi di Indonesia sudah gagal. Terpecahbelahnya gerakan radikal dan terus-menerus membuat aliansi baru merupakan reaksi terhadap kegagalan ini. Tak ada indikasi apapun bahwa gerakan ekstrimis ala Noordin Top sedang meningkat. Yang kita lihat justru adalah wajah lama membungkus ide lama dengan kertas baru. Untuk kedepan, tantangan yang lebih berat untuk Indonesia adalah bagaimana menangani aspirasi JAT yang mengirim pesan ke publik bahwa demokrasi tidak cocok dengan Islam; bahwa hanya daulah islamiyah bisa menghidupkan nilai-nilai Islam; dan syariat Islam harus menjadi sumber keadilan.

Jakarta/Brussels, 6 Juli 2010

 
This page in:
English
Bahasa Indonesia

More Information