You must enable JavaScript to view this site.
This site uses cookies. By continuing to browse the site you are agreeing to our use of cookies. Review our legal notice and privacy policy for more details.
Close
Homepage > Regions / Countries > Asia > South East Asia > Indonesia > Indonesia: Cautious Calm in Ambon

Tenang Tapi Waspada di Ambon

Asia Briefing N°133 13 Feb 2012

The full briefing is available in English.

Ringkasan Ikhtisar

Beberapa bulan setelah kerusuhan antara komunitas Kristen dan Muslim yang terjadi di Ambon, kota Ambon kelihatan tenang. Pejabat setempat belajar dari peristiwa bentrokan 11 September 2011, yang dipicu oleh kematian seorang tukang ojek Muslim di wilayah Kristen. Pasukan keamanan contohnya, sudah lebih cepat tiba di lokasi kejadian tawuran terkait SARA. Dan meskipun belum semua pengungsi bisa pulang ke rumah mereka masing-masing, sejumlah upaya inovatif sudah dirintis dengan menggunakan rekonstruksi untuk mendorong proses rekonsiliasi. Pemerintah juga lebih sadar pentingnya bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan telekomunikasi untuk mengirim sms masal ke masyarakat ketika ada kerusuhan.

Namun begitu, masih banyak persoalan yang belum terselesaikan, termasuk segregasi fisik dan rasa saling tidak percaya antara komunitas Kristen dan Muslim, kurang memadainya kapasitas polisi, dan kurangnya transparansi dalam investigasi terhadap insiden-insiden yang mendapat banyak sorotan.

Ambon akan menjadi tuan rumah perhelatan akbar Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat nasional pertengahan Juni nanti, dan para pejabat setempat melihat event ini sebagai kesempatan untuk memperlihatkan kota Ambon sebagai sebuah kota yang penduduknya hidup secara harmonis dan menjadi tempat investasi yang menarik. Para pemimpin Kristen dan Muslim ingin MTQ berjalan dengan sukses dan menjadi kebanggaan seluruh rakyat maluku, dan tanggal pelaksanaan MTQ secara tidak resmi telah menjadi tenggat waktu dimana semua sisa-sisa kerusuhan September harus sudah bersih dari Ambon.

Sebuah kekerasan lain yang pecah di pertengahan Desember lalu, kali ini dipicu oleh kematian seorang supir angkot Kristen, adalah bukti ketegangan yang masih berlangsung. Kota Ambon masih tersegregasi dan kekerasan sering terjadi bahkan dengan penyebab sepele sekalipun. Kelemahan mendasar polisi masih belum dibenahi, dan tidak dilakukannya investigasi serius terhadap insiden-insiden yang mendapat banyak sorotan membuat masyarakat terpolarisasi dan mendorong teori-teori konspirasi. Dan ketika investigasi dilakukan, seperti yang terjadi setelah kematian tukang ojek yang memicu kerusuhan September, hasilnya tidak diumumkan ke publik, sehingga membuat masyarakat menuduh ada yang ingin ditutup-tutupi. Unsur-unsur radikal cukup aktif di Ambon, dan situs mereka yang tendensius seolah-olah dengan sengaja berupaya untuk mengipas-kipasi konflik.

Setiap orang yang diwawancarai menyebutkan sejumlah titik rawan kedepan, antara lain: pemilihan bupati Maluku Tengah tanggal 27 Maret 2012; hari ulang tahun RMS 25 April; dan pelaksanaan MTQ dari tanggal 9 hingga 19 Juni. Namun seperti yang diucapkan oleh Uskup Ambon dalam sebuah wawancara di bulan Januari,”Saya tidak khawatir mengenai hari-hari besar. Yang justru berbahaya adalah hari-hari biasa ketika tidak ada orang yang menaruh perhatian.”

Jakarta/Brussels, 13 Februari 2012

 

More Information

Podcast


Sidney Jones with Community Leader in Ambon, Indonesia, January 2012
Update from Ambon
23 January 2012
As they head back to the airport at the end of a research trip to Ambon, Indonesia, Senior Adviser Sidney Jones speaks with Communications Director Andrew Stroehlein about her impressions following their meetings with community leaders, journalists and local officials.  
Listen to podcast