icon caret Arrow Down Arrow Left Arrow Right Arrow Up Line Camera icon set icon set Ellipsis icon set Facebook Favorite Globe Hamburger List Mail Map Marker Map Microphone Minus PDF Play Print RSS Search Share Trash Crisiswatch Alerts and Trends Box - 1080/761 Copy Twitter Video Camera  copyview Whatsapp Youtube
Has Timor-Leste left behind its violent past?
Has Timor-Leste left behind its violent past?
Briefing 134 / Asia

Timor Leste: Meninggalkan Kekerasan Di Masa Lalu

I. Ringkasan ikhtisar

Pemilihan Umum Timor Leste tahun 2012 akan menjadi sebuah ujian penting bagi ketahanan negara ini saat merayakan kemerdekaan mereka yang ke-10 tahun. Pemerintah koalisi belum banyak melakukan reformasi jangka panjang yang diyakini penting setelah krisis 2006, namun karena semakin banyak orang yang makmur di Timor Leste, makin banyak pula kepentingan bahwa negara ini stabil.  Hasil pemilu masih sulit untuk diprediksi karena banyaknya jumlah partai politik dan calon presiden yang ikut, dan karena pemilu bukan berbasis isu. Pemilihan umum yang sukses akan menjadi hal penting tidak hanya dalam rangka mengamankan penarikan misi penjaga perdamaian PBB yang sudah ditunggu-tunggu sejak lama dari Timor Leste, tapi juga dapat memberikan kepercayaan diri bagi para pemimpinnya untuk menghadapi beragam tantangan.

Timor Leste nampak lebih damai dibanding ketika pemilu yang terakhir di tahun 2007 lalu, tapi banyak dari akar penyebab kerapuhan masih tetap ada. Hubungan antara kalangan kecil elit politik jauh lebih bersahabat, tapi kemarahan atas apa yang terjadi di masa lalu, khususnya berkaitan dengan krisis tahun 2006 masih tetap tertanam. Selain itu jumlah pengangguran meningkat di kalangan pemuda, terutama di Dili, serta aksi-aksi kekerasan oleh kelompok pencak silat dan masih menjadi masalah yang terus terjadi. Tidak ada yang yakin seberapa dekat masalah ini akan berimplikasi pada persaingan politik, namun setiap manipulasi yang disengaja terhadap rasa-rasa frustrasi di masyarakat tersebut memiliki potensi untuk menjadi pemicu kerusuhan.

Akan ada banyak kandidat yang maju dalam pemilihan presiden dan parlemen, tapi sekali lagi kontes yang sebenarnya hanya akan terjadi diantara segelintir pemain yang sudah terkenal. Setelah pemilihan presiden putaran pertama selesai tanggal 17 Maret, dua dari kandidat-kandidat berikut kemungkinan akan lanjut ke putaran kedua di bulan April, yaitu: inkumben, Jose Ramos Horta, ketua parlemen saat ini Fernando “Lasama” de Araujo, pendahulunya Francisco Guterres “Lu Olo”, atau mantan panglima militer Timor Leste, Taur Matan Ruak. Duapuluh empat partai siap untuk bersaing dalam pemilu parlemen akhir Juni nanti, tapi yang kelihatannya mampu untuk memperoleh mayoritas suara hanya dua, yaitu: Partai Congresso Nacional de Reconstrucao de Timor-Leste (CNRT) nya Perdana Menteri Xanana Gusmao, dan partai yang memimpin pemerintahan pertama di negara itu,  Frente Revolucionaria de Timor-Leste (Fretilin). Hasilnya kemungkinan besar yaitu sebuah pemerintahan koalisi yang dibentuk oleh salah satu dari dua partai utama tersebut dengan dukungan dari 22 partai kecil yang bersaing. Luasnya kompetisi ini, yang mencakup beberapa partai baru, membuat prediksi hasil pemilu parlemen menjadi semakin sulit.

Ketegangan politik sebagian besar mengerucut menjelang hari pemilihan dan situasi keamanan masih tetap stabil meskipun ada peningkatan kecil dalam kejahatan kekerasan. Musim kampanye telah semakin dekat dan suhu politik makin meningkat, namun kapasitas aparat penegak hukum masih rendah, ini berarti akan ada banyak sumber-sumber potensi resiko keamanan. Polisi PBB dan pasukan International Stabilisation Force (ISF) yang jumlahnya kecil bisa membantu dalam pengendalian massa dan anti huru hara, tapi fokus mereka seharusnya pada tindakan-tindakan lain. Kelompok-kelompok masyarakat sipil memiliki peran dalam membantu mendidik para pemilih dan memantau kepatuhan terhadap kode etik, serta mengekspos kepada publik kemungkinan keterlibatan kelompok-kelompok bela diri dalam aksi-aksi intimidasi maupun kekerasan terkait pemilu. Hubungan Masyarakat harus menjadi bagian kunci dari pusat operasi terpadu yang direncanakan untuk dibentuk untuk merespon segala ancaman keamanan terhadap pemilu: rumor atau kabar angin telah terbukti menjadi potensi dalam memicu kekerasan dan respon yang cepat oleh polisi dalam memerangi informasi palsu dapat membantu menjaga perdamaian.  Resiko yang paling besar adalah adanya suatu bentuk impunitas yang nyaris sempurna dalam kekerasan politik, oleh karena itu para kandidat sekarang harus menjelaskan bahwa kejahatan semacam ini tidak akan lagi diampuni.

PBB juga punya peran yang harus dimainkan. Otoritas nasional akan bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pemilihan umum Timor Leste kedua paling besar sejak kemerdekaan mereka, tapi misi PBB juga harus siap untuk mengambil baik langkah-langkah tertutup maupun terbuka sebagai respon atas setiap pelanggaran serius terhadap peraturan pemilu. Salah satu hasil dari tiga belas tahun kehadiran PBB di Timor adalah sebuah kepercayaan terhadap misinya sebagai penjamin atas pemilu yang bebas dan adil, bahkan kalaupun PBB hanya memainkan peran pendukung.

Kekerasan terkait pemilu di dalam sejarah singkat Timor Leste merupakan gejala dari persaingan politik yang sudah ada sejak masa pendudukan Indonesia serta pertaruhan persaingan politik yang tinggi.  Hubungan yang buruk diantara kalangan kecil elit politik akan pulih dengan sendirinya, namun dalam jangka menengah beberapa langkah bisa diambil untuk menurunkan ketegangan yang ada saat ini. Langkah-langkah itu termasuk menggilir jadwal pemilu presiden dan parlemen dalam tahun yang berbeda, dan mendorong pengembangan jajak pendapat yang dapat dipercaya atau tabulasi suara yang bersifat paralel. Pelaksanaan pemilu presiden dan parlemen yang bergiliran dapat menurunkan ketegangan yang biasanya muncul diantara kedua pemilu. Jajak pendapat ataupun Perhitungan Cepat (Quick Count) dapat membantu menurunkan ketegangan dalam masa kampanye dan menghilangkan sejumlah tekanan terhadap pengumuman hasil pemilu, yang biasanya dapat menjadi pemicu kerusuhan.

PBB tidak bisa meninggalkan Timor Leste kalau ada kerusuhan serius dalam pemilu ini. Tapi juga penting bagi stabilitas jangka panjang Timor Leste bahwa persaingan politik di negara ini  berjalan sehat dan damai.  Pemilu ini telah menimbulkan kekhawatiran diantara banyak warga Timor Leste kemungkinan terjadinya kembali kerusuhan. Banyak langkah-langkah reformatif yang ditangguhkan sejak tahun 2006, karena khawatir reformasi tersebut akan mengancam stabilitas. Apabila pemilu berjalan sukses, seharusnya hal ini memberi kepercayaan diri terhadap pemerintahan yang baru kelak untuk bekerja lebih keras dalam membangun konsensus dan melakukan reformasi dalam penegakan supremasi hukum.

Dili/Jakarta/Brussels, 21 Februari 2012

Commentary / Asia

Has Timor-Leste left behind its violent past?

Timor-Leste seems to have passed the test. With last Saturday’s parliamentary poll, it has now held three elections this year without significant violence. This will allow for the withdrawal of a UN peacekeeping mission whose 1,100-strong police component has long seemed out of synch with local realities. Its violent recent past may increasingly look like history, although the poor country that celebrated only the 10th anniversary of the restoration of its independence in May still faces numerous challenges.

Concerns that the formation of a new coalition government might give rise to violence, as occurred following the 2007 elections, now look misplaced as provisional results show only four parties due to take seats in parliament (official results are due next week). A look at the seat results shows that the CNRT (National Congress for Timorese Reconstruction) has increased its share from 18 to 30 seats, and looks likely to form another government with former coalition partner Partido Democrático (eight seats) and maybe Frenti-Mudança (two seats).This is good for stability in the short term, but it also carries risks. A stronger government composed of fewer parties may be able to pursue clearer legislative objectives, but it will put great pressure on FRETILIN as perhaps the only party in opposition. As a young country only ten years on from independence, Timor-Leste’s parliament continues to consider questions of fundamental importance to the country’s future on which there is much debate, such as how to spend the billions in its Petroleum Fund, or how to structure land administration. Chosen from party lists and not constituencies, giving them little incentive to engage with communities, Timor-Leste’s parliamentarians to date have struggled to provide either an effective check on the executive or a constructive partner by initiating their own legislation. CNRT’s dominance will mean less active scrutiny and will further erode its role as an instrument of accountability.

The elections were not violence-free. There were some minor incidents of stone throwing and a report of three houses being burnt in Viqueque district in the last few days. But even in this volatile part of Timor-Leste, it was much less than the hundreds burnt around the 2007 polls. When we visited the district in May and asked why, the answer from the police, local government, chefes de suco, and civil society workers alike was unanimous – the threats from heads of the police and army had worked. Their blunt warnings that troublemakers would be shot were backed up with high-profile joint patrols and those contemplating violence got the message. It was a victory for “conflict prevention” that raised new questions about how the country will be governed in the future.